Tuesday, September 6, 2016

MASUK BARISAN: JIWA KACAU YANG SATU LAGI


BLOOK

tajuk: Masuk Barisan: Jiwa Kacau yang Satu Lagi

penyelenggara: Basri, Jigo, Attokz

penerbit: Mak Itam Network Enterprise

harga: RM23

muka surat: 188 halaman

blurb:


Geng Jurnal kembali mempersembahkan projek-cabut-palam bagi membakar tangan-tangan yang masih segan untuk berkenalan dengan tetikus dan papan kekunci.


MASUK BARISAN bukanlah buku propaganda politik tetapi adalah blook yang menghimpunkan entri-entri terpilih lebih daripada 20 penulis blog tempatan. Dilonjakkan oleh kejayaan luar jangkaan blook JIWA KACAU, MASUK BARISAN sekali lagi menyusuri kehidupan yang tentunya tidak selalu manis, wangi dan berangin bak daun pudina.

Seperti juga JIWA KACAU, MASUK BARISAN mengekalkan kepelbagaian rasa masin masam manis pahit payau untuk digigit, dikunyah, diratah, ditelan dan dihadam bagi memenuhi selera segenap lapisan masyarakat.

Thursday, September 1, 2016

DI KAKI BUKIT CIBALAK


BUKU INDONESIA

tajuk: Di Kaki Bukit Cibalak

penulis: Ahmad Tohari

penerbit: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

harga: RM25

muka surat: 170 halaman

blurb:

Perubahan yang mendasar mulai merambah desa Tanggir pada tahun 1970-an. Suara orang menumbuk padi hilang, digantikan suara mesin kilang padi. Kerbau dan sapi pun dijual karena tenaganya sudah digantikan traktor. Sementara, di desa yang sedang berubah itu muncul kemelut akibat pemilihan kepala desa yang tidak jujur. Pambudi, pemuda Tanggir yang bermaksud menyelamatkan desanya dari kecurangan kepala desa yang baru malah tersingkir ke Yogya. Di kota pelajar itu Pambudi bertemu teman lama yang memintanya meneruskan belajar sambil bekerja di sebuah toko. Melalui persuratkabaran, Pambudi melanjutkan perlawanannya terhadap kepala desa Tanggir yang curang, dan berhasil. Tetapi pemuda Tanggir itu kehilangan gadis sedesa yang dicintainya. Dan Pambudi mendapat ganti, anak pemilik toko tempatnya bekerja, meski harus mengalami pergulatan batin yang meletihkan.

HAFALAN SHALAT DELISA


BUKU INDONESIA

tajuk: Hafalan Shalat Delisa

penulis: Tere Liye

penerbit: Republika Penerbit

harga: RM30

muka surat: 266 halaman

sinopsis:


Delisa anak perempuan yang bermata hijau, bening dan umurnya baru mencecah lima tahun. Dia hidup dalam keluarganya yang sebegitu, dia cuba menghafal bacaan dalam solat dengan bantuan ibu dan kakaknya.

Namun Tuhan lebih tahu apa yang lebih baik untuk hamba-Nya. Tsunami datang melumatka senyuman pada wajah Delisa. Tsunami mengambil segala-galanya, keluarga juga kaki kecilnya. Yang tersisa, hanya dia dan ayahnya, dan dalam keadaan sebegitu apakah Delisa mampu tetap tersenyum seperti dahulu dan menyudahkan hafalannya?


- Telah difilimkan & ditonton puluhan juta pemirsa.

- Salah satu buku dengan rating tertinggi di www.goodreads.com, 4 dari 5 bintang.

Sunday, February 28, 2016

MOSH ZINE #17 (ZINE)


ZINE

tajuk: Mosh Zine #17

penulis: Nizang

penerbit: KaryaRaya Publishing

harga: RM12

muka surat: 98 halaman

penerangan:

texts, arts & rock n roll.

keluaran ke 17 zine Mosh yang memuatkan temuramah dengan band punk/indie lokal, artikel, kolum dan ulasan-ulasan zine dan muzik.

menampilkan Khottal, Iqbal M., Brayok, Belacak, Aizat Tarmizi, Con-Damn The Corruptor dengan penulis jemputan Ra1m1, Daniyal Kadir, Kudin, Syahmi dan Amirul Jaafar.

"Ikan kecil takkan menjadi makanan ikan besar selamanya."

AKSI REAKSI 2: DOKUMENTASI DUM DUM TAK


tajuk: Aksi Reaksi 2: Dokumentasi Dum Dum Tak

penulis: Nizang

penerbit: Perak Alternatif Press & Distro, KaryaRaya Publishing

harga: RM15

muka surat: 102 halaman

penrangan:

kata Nizang "Bulan Januari 2012 lepas, kawan kami Zulhabri (Pekan Frinjan) ada terbitkan buku kami Aksi Reaksi sebanyak 100 salinan. Buku tu dah lama sold-out. Lepas tu harini, dengan bantuan Anuar dari Perak Alternatif Press & Distro, kami terbitkan buku Aksi Reaksi 2. Kalini isi dah ditambah dan dikemaskini. Juga ada prakata oleh Hishamuddin Rais (Tukar Tiub). 110 muka surat bersaiz A6 (sesuai utk traveller masukkan dalam kocek). Ikuti perjalanan band ni, asam garam, naik turun, pengalaman kami dan juga sikit sebanyak perihal scene punk, hardcore, indie, seni, politik, muda-mudi tempatan."

"DUM DUM TAK merupakan satu fenomena dalam scene muzik, sosial dan politik." -ANIX, Punk Rocker

Monday, November 2, 2015

SEPAK BOLA SERIBU TAFSIR


BUKU INDONESIA

tajuk: Sepak Bola Seribu Tafsir

penulis: Eddward S. Kennedy

penerbit: Indie Book Corner

harga: RM30

muka surat: 193 halaman

blurb:


“Thanks God for football, beer and woman! Idiom itu sering diungkapkan oleh para suporter di Eropa sana. Menjelaskan bagaimana sepakbola sering dinikmati sebagai perayaan ketidaksadaran (bir) dan hasrat (perempuan). Buku ini seperti mengafirmasi hal itu karena ditulis dengan cara seperti seorang suporter di tribun yang menonton bola sambil dirasuki ketidaksadaran alkoholik.”

Zen RS, Penulis, Pecinta Bola.

“Saya sulit mengkategorikan apakah sedang membaca buku filsafat atau sepakbola. Kalau buku filsafat, mengapa begini mudah memahaminya? Kalau buku sepakbola, mengapa begitu berbobot isinya? Jarang sekali saya menemui penulis sepakbola indonesia yang seperti ini. Lebih jarang lagi menemui buku sepakbola berbahasa Indonesia yang bagus seperti ini.”

Yusuf Dalipin, Pemimpin Redaksi CNN Indonesia.

penerangan:

Menelaah sepak bola rasanya memang seperti menelaah kehidupan. Di dalamnya ada kalah dan menang, ada proses, ada filosofi yang mendasari suatu perbuatan, ada tangis dan tawa, ada konsekuensi, ada kegelisahan, dan masih banyak lagi. Sepak bola seakan menjelma menjadi hidup itu sendiri, namun tentunya dengan bentuk dan cara yang sangat berbeda.

Barangkali atas alasan itulah mengapa buku ini diberi judul ‘Sepak Bola Seribu Tafsir’. Ada begitu banyak tafsir dalam 90 menit sebuah laga di atas lapangan berlapis rumput hijau, dengan dua gawang yang berseberangan, satu bola, seorang pengadil, dan 22 pemain. Dari sana, semua alegori kehidupan tercipta. Dua tim saling beradu kecerdikan, kekuatan, dan ketahanan mental untuk meraih kemenangan atau justru untuk memahami kekalahan.

Adu kecerdikan, kekuatan, dan ketahanan mental itulah yang menjadi dialektika dalam sebuah pertandingan sepak bola. Seperti yang dikatakan filsuf eksistensialisme Prancis, Jean-Paul Sartre, sepak bola menjadi kompleks karena kehadiran tim lawan. Semua ide, filosofi, dan eksekusi bertumbukan semuanya di lapangan hijau. Inilah yang membuat terjadinya dialektika di dalam sepak bola menjadi mungkin. Hasil akhir suatu pertandingan kemudian disebut sintesis, yang nantinya akan berubah kembali menjadi tesis untuk diadu lagi dengan antitesis lainnya. Begitu seterusnya. Sangat dinamis dan tanpa kendat, laiknya kehidupan.

41 LELAKI 40 PEREMPUAN


tajuk: 41 Lelaki 40 Perempuan

penulis: Tulangkata

penerbit: Merpati Jingga

harga: RM20

muka surat: 162 halaman

penerangan:

41 Lelaki 40 Perempuan merupakan sebuah buku himpunan puisi yang mengandungi 81 puisi dan beberapa illustrasi digital. Buku ini mengandungi puisi-puisi tentang segala macam hal/isu yang berlaku dalam kehidupan seharian. Penulis buku ini memetik isu-isu yang dianggap kesan dari kehidupan zaman pascamoden. Antara tema-tema puisi yang terkandung dalam buku ini ialah budaya pembaratan, kapitalisme, feminisme dan fenomena media sosial. Penulis juga melakukan eksperimen dimana dia cuba menjadi 41 lelaki & 40 perempuan yang berbeza. Tuntasnya, buku ini mengandungi 41 puisi dari 41 watak lelaki yang berbeza, dan 40 puisi dari 40 watak perempuan yang berbeza.

KOLEKSI PUISI MASTURBASI


tajuk: Koleksi Puisi Masturbasi

penulis: Benz Ali

penerbit: Merpati Jingga

harga: RM25

muka surat: 134 halaman

blurb:


MASTURBASI dalam buku ini tidak merujuk kepada perbuatan fizikal tetapi hanyalah sebuah konotasi yang mengejek diskusi intelektual yang tidak menatijahkan apa-apa perubahan. Puisi yang dikumpulkan sejak 2011 mengekspressikan perasaan dalam perkataan yang terhad dan cuba lari daripada norma puisi biasa.

Ia bersurah tentang dosa-dosa yang telah dianggap biasa (norma), menyentuh tema kemiskinan, pembodohan, kemunafikan (catakserukin) dan pembaziran.

Menurut Abror Rivai dalam prakatanya, Benz ini lantang bersuara kerana tanpa disedari hari-hari yang dilalui itu telah dipenuhi dengan sembahan, berupa kepatuhan sekonyong-konyong terhadap kepercayaan yang simplistik. Sedangkan sindirnya, orang-orang agama semakin jahat merembat, ahli politik semakin berseteru dalam semua perkara tapi lucu bila bersatu naik gaji.

-
Prakata oleh Abror Rivai

DI BALIK SERBAN


tajuk: Di balik Serban (edisi kedai buku Pelacur Kelas Pertam)

penulis: Melati Rahim

penerbit: Merpati Jingga

harga: RM21

muka surat: 209 halaman

blurb:


Kisah Di Balik Serban adalah kisah yang ditulis berdasarkan kisah benar. Shuhada merupakan seorang anak, isteri dan perempuan yang menjadi mangsa dalam setiap keadaan. Setiap mimpi indahnya bertukar gelap dan tidak bercahaya selepas dia dirogol bakal suaminya iaitu Alias. Alias seorang ustaz lepasan Mesir menjadi pilihan ibu bapa Shuhada sedangkan Azam bekas tunang Shuhada ditolak hanya kerana belajar di Malaysia. Kehidupan Shuhada penuh dengan kesakitan dan kesengsaraan, setelah beberapa kali keguguran Shuhada akhirnya dinasihatkan untuk tidak lagi mengandung. Kesakitan Shuhada bertambah apabila Azam meninggal dunia akibat kemalangan. Sejak hari itu Shuhada sering berada di dalam alamnya sendiri bersama Azam. 

"Hari perkahwinanku adalah permulaan hidupku sebagai hamba buat suami sendiri. Ya, mungkin aku patut digelar pelacur. Pelacur kelas pertama."

“Jika mimpi itu satu kebahagiaan, apa perlu kau bangunkan aku dari lamunan?”
 
“Aku mencari tuhan pada setiap penjuru ruang dan alam, namun aku gagal. Apakah Tuhan sudah pekak dan bisu sehingga tidak lagi mahu mendengar rintihanku? Atau sebenarnya tuhan sudah mati?”

BAHASA TUHAN SUDAH MATI


tajuk: Bahasa Tuhan Sudah Mati

penulis: Za'im Yusoff, Fadli Al-Akiti dan Muhd Iqbal

penerbit: Penerbit Kaukab dan Institut terjemahan dan Buku Malaysia

harga: RM25

muka surat: 123 halaman

blurb:


Sebuah kumpulan puisi yang seimbang dari segi nada dan bentuknya secara keseluruhan, Seperti sebuah rumah, puisi-puisi dalam buku ini disusun dalam sebegini rupa dengan tujuan tertentu. Za'im Yusoff bertindak menjadi beranda dan pintu hadapan, Fadli Al-Akiti adalah ruang tamu yang penuh dengan koleksi filem dan potret yang banyak nostalgia dan renungan, manakala Muhd Iqbal adalah bilik bacaan yang menyimpan banyak suara-suara diam yang barangkali jarang tumpah ke telinga pengunjung rumah ini.
Karl Agan

Asalkan situasi-situasi yang bermacam-macam secara bertubi-tubi menganggu fikiran aku. Ada yang lembut mengajakku tenang. Ada yang tajam membuat aku bengang. Ada yang manis memujuk aku sayang.
Fynn Jamal